“Saya lepaskan segalanya. Tahta, sosok yang hanya satu—“

“Tapi Anda terlahir sebagai seorang penguasa Olympus.”

“Mendapatkan kehormatan. Bukan garis keturunan, bukan juga takdir murni. Saya tidak tepat untuk singgasana mewah ini.”

Sang dewi menatap seorang dewa muda—baru terlahir beberapa hari, namun sudah tampan dan terlihat siap.

“Sudikah Anda terima kedudukan saya, Dionysus?”

“Hestia—“

“Biarkan saya mengarung bebas, meninggalkan tubuh ini. Biarkan saya melebur dengan api yang hangat. Saya akan selalu ada. Bersama kalian, dan bersama para keluarga yang damai dan bahagia hatinya.”

Baranya tak tenang, liuknya pun patah. Satu, dua, nyaris padam. Sang dewi melesat ke puncak cerobong perapian di sebuah rumah. Raut wajahnya melukiskan rasa gusar.

Ada yang tidak beres.

Mungkin tak terasa oleh kaum fana, bara api yang meletup dari bawah bumi, nyaris meledak. Guncangan dan raungan menyeramkan yang samar.

Hestia menyadari. Hestia selalu awas.

“Hades…”

Sang dewi melesat meninggalkan salah satu apinya. Tujuannya hanya satu—sang raja dunia bawah.

Mungkin Hestia tak tau keberadaan dewa-dewi yang lain. Namun, untuk para adik-adiknya, Hestia selalu dapat menemukan mereka. Terutama para raja dengan aura dewata mereka yang masih menguar kuat. Setidaknya hingga saat ini.

Namun, Zeus…

Kapan terakhir kali ia berjumpa dengan sang adik?

.

Antwerp, Belgia.

Sebuah apartemen yang seluruh lampunya terang benderang. Yang api dari kompor-kompornya menyala, dan api terkecil menyala dari sebuah lilin di salah satu kamar.

Di situ lah sang adik berada.

Sosoknya melebur bersama api kecil tersebut, menguar ke udara, hingga sosok dewatanya terbentuk. Bercahaya, hangat, dan begitu cantik.

“Hades.”

Ruangan itu sedikit temaram, wanginya seperti kayu cedar. Segar, khas sang raja dunia bawah.

Di sebuah kursi empuk, seorang pria duduk sembari membaca koran. Sebuah cerutu diletakkan di sebuah asbak yang terletak di atas meja kecil di sisi kursi kulit tersebut.